Bolehkah Guru Gaptek ?
Dalam konteks
pendidikan, kemajuan iptek membutuhkan perhatian serius karena dunia pendidikan
adalah sarana paling efektif dalam penyebaran iptek. Sistem pembelajaran
konvesional perlahan mulai tertinggal jauh di belakang.
Saat ini proses
pembelajaran tidak hanya berkutat di dalam kelas, tetapi juga menggunakan media
digital, online, dan telekonferensi. Namun, pendidikan juga harus waspada agar
mampu membendung efek negatif dari perkembangan iptek.
Menyikapi hal tersebut,
guru sebagai aktor utama pendidikan tidak boleh tutup mata. Guru hari ini harus
lebih pintar dan cerdas dibandingkan murid-murdinya dalam menyikapi
perkembangan teknologi yang semakin melesat.
Jangan sampai seorang
guru memiliki penyakit TBC (tidak bisa computer), mengingat anak didik lebih
akrab dengan dunia teknologi dan komunikasi. Keterbelakangan guru dalam dunia
iptek akan menjadi bumerang yang akan memengaruhi profesionalitas keguruannya.
Generasi
Z dan Generasi Alpha
Yang jadi permasalahan
kolektif dunia pendidikan kita saat ini adalah guru abad XX (yang lahir tahun
di bawah 2000) masih gagap teknologi. Sedangkan murid yang dihadapi adalah
manusia abad XXI yang tentu beda dalam asupan gizi keilmuan teknologi.
Sederhananya, banyak
anak didik kita saat ini lebih cerdas dalam dunia teknologi daripada gurunya.
Kesenjangan semacam ini tidak bisa dibiarkan begitu saja agar tidak berakibat
fatal dalam proses pendidikan.
Ini semua akan menjadi
tantangan terbesar bagi para guru. Canggihnya teknologi akan menyebabkan
komunikasi antarpeserta didik dapat terjalin dengan rahasia.
Ketika obrolan dunia
maya antaranak didik tanpa ada campur orang tua dan guru, maka sangat riskan
mereka akan bertindak sesuai dengan nafsu jiwa muda. Nafsu jiwa muda cenderung
tanpa pertimbangan akal yang tentunya bisa mengakibatkan dampak negatif bagi
diri mereka.
Sadar
teknologi
Kualitas guru yang
hampa akan teknologi tidak akan mampu menanamkan “daya kritis” kepada murid
untuk menjadi manusia revolusioner. Sehingga mereka terhambat untuk menggali
potensi dirinya.
Guru yang gaptek (gagap
teknologi) akan menurunkan derajat kredibilitasnya di hadapan para muridnya
sehingga murid cenderung bersikap underestimate, seolah-olah guru adalah orang
dungu di tengah dunia metropolitan.
Ini fenomena yang sering ada dan terjadi di sekeliling kita. Guru boleh produk tahun 90-an, tapi kapasitas keilmuannya tidak boleh kalah dengan persaingan zaman.
Ini fenomena yang sering ada dan terjadi di sekeliling kita. Guru boleh produk tahun 90-an, tapi kapasitas keilmuannya tidak boleh kalah dengan persaingan zaman.
Dalam hal ini, guru
harus mengetahui bahasa yang sering digunakan oleh mereka. Terkadang dalam
bahasa yang mereka gunakan terselip unsur-unsur yang menjerumus kepada
tindakan-tindakan yang tak beradab.
Misalnya, bullying (perisakan), diskriminasi, narkoba, bahkan seksual. Ketika guru sudah masuk dalam dunia muridnya, maka akan lebih mudah bagi guru mengantisipasi hal-hal negatif yang setiap saat selalu menghantui.
Misalnya, bullying (perisakan), diskriminasi, narkoba, bahkan seksual. Ketika guru sudah masuk dalam dunia muridnya, maka akan lebih mudah bagi guru mengantisipasi hal-hal negatif yang setiap saat selalu menghantui.
Komentar
Posting Komentar