Dampak Pasca Covid-19


Kita semua tahu bahwa ada kutukan unik yg melekat di negara ini. Apakah itu ? yaitu sekalinya terkena gelombang masalah, pasti akan susah untuk bangkit.

Kenapa penulis bisa berpikir demikian ?

Jika kita ingin mengulik peristiwa masa lampau, saat sebelum era reformasi, nilai tukar rupiah mulai merangkak dan asumsinya dipatok pada level Rp2.000 per USD. Tidak ditampik, di era ini, nilai tukar rupiah sempat mencapai puncak kejayaan karena pelemahannya bisa ditekan sedemikian rupa dalam artian terjaga di level yang diinginkan Pemerintahan.

Namun sayangnya, kestabilan nilai tukar rupiah mulai diporak-porandakan oleh harga minyak dunia yang terjun bebas pada 1986. Hal itu kemudian diperparah dengan krisis moneter 1998 sehingga dalam waktu singkat, mata uang Garuda terjun ke titik paling buruk dalam sejarah Indonesia yakni Rp16.800 per USD.

Di era sekarang, rupiah mulai menguat lagi meskipun bergerak perlahan. Sampai sekarang saja kita masih belum mampu mengembalikan angka kejayaan senilai Rp2.000 per USD itu. Seharusnya tahun lalu menetap pada level Rp13.567 USD. Namun apa yang terjadi ? Semua perjuangan seakan sirna hanya karena serangan satu musuh, yang tidak lain adalah Covid-19.

Adanya virus Corona ini membuat negara kita dihujam krisis untuk kesekian kalinya. Bahkan ketika artikel ini dibuat, 2 April 2020, kurs masih berada di angka Rp16.934 yang mana masih bisa semakin parah seiring periode mendatang.

 


Hal diatas hanyalah salah satu dampak negatif dari rusaknya ekonomi negara karena wabah yang sangat mengganggu ini. Penulis hanya bisa memperkirakan adanya permasalahan-permasalahan baru yang akan timbul kedepannya. Diantaranya adalah ;

1.      Huru-hara yang terjadi dimana-mana
Kericuhan bisa terjadi apabila masyarakat mulai dilanda kepanikan dan sulit sekali mengatur pribadi. Bisa diakibatkan karena media yang terus menyiarkan berita negatif mengenai covid dan bisa juga karena memang kondisi penyebaran virus tersebut yang mulai tidak terkendali. Bahkan belum juga permasalahan covid ini selesai, masyarakat di negara tetangga kita sudah saling bentrok karena perkara lockdown.
2.      Rendahnya sisi kemanusiaan

Loh ? memangnya ada hubungannya ?. Jikalau kita cermati baik-baik, sifat acuh dan kurang peduli akibat dampak Physical Distancing bisa saja terjadi. Bisa saja gaya hidup ikut berubah 1800 dari yang semula ramah menjadi individualistis. Hal yang sering mendapat penolakan dari warga adalah pemakaman jenazah pasien yang terjangkit, hingga keluarganya ikut dikucilkan atau ditolak tinggal di permukimannya. Bahkan itu baru contoh kecilnya.
3.      Semakin miskinnya suatu negara akibat rupiah yang melemah
Tentunya dampak covid bisa menyebabkan perekonomian negara menjadi tidak stabil. Hal ini dikarenakan banyaknya ladang pangan yang tutup, industri yang mulai bangkrut, dan bahkan para investor luar yang melarikan diri dari Indonesia. 
4.      Konflik untuk saling menyalahkan
Misalkan virus ini dibawa oleh negara A yang kemudian menyalahkan negara B. Lalu negara C ikut menyalahkan negara A, B seperti itu seterusnya tanpa ada solusi dan hanya saling menyalahkan satu sama lain. Bisa saja statement negatif serta sikap ingin menang sendiri seperti ini bisa mengakibatkan perang dunia.

Bagaimana ? sudah cukup mengerikan ?
Sebenarnya hal-hal diatas bisa saja tidak terjadi apabila kita bisa sadar dan mawas diri masing-masing. Sayangnya, beberapa orang masih kurang peduli terhadap wabah ini.


 

Namun dibalik permasalahan-permasalahan yang timbul, jika kita gali lebih dalam sebenarnya terdapat beberapa hal positif yang bisa kita petik. Bahkan hal positif ini bisa menjadi budaya baru dalam kehidupan manusia di era abad 21 ini. Diantaranya adalah ;

1.      Bidang kesehatan yang semakin maju
Sudah seharusnya, karena dunia kesehatan akan menemukan titik terang dalam penemuan vaksin untuk memerangi jenis penyakit baru yang bahkan sempat menghantui masyarakat. Rasa optimis akan semakin timbul di kancah dunia kedokteran dunia.
2.      Sikap peduli lingkungan dan kesehatan mulai meningkat
Hal ini mulai terlihat dimana-mana. Kita sebut saja budaya cuci tangan yang penulis akui sendiri bahkan selama ini masih kurang digalakan. Namun akibat adanya wabah, kelihatannya masyarakat mulai sadar akan pentingnya mencuci tangan dengan memasang hand sanitizer di tempat-tempat umum.
3.      Brand lokal mulai unjuk gigi
Seperti yang telah penulis paparkan, ada potensi bahwa rupiah akan sulit untuk bangkit. Namun semua bisa kita akali dengan membangun industri dalam negeri. Dengan bisa memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier menggunakan industri lokal, mungkin kita bisa mengurangi ketergantungan akan dollar dan mengurangi kuota impor. 
4.      Industri dalam negeri semakin berkembang mandiri
Sebagai contoh industri tekstil. Mulai terlihat adanya inovasi produk dari yang semula hanya membuat pakaian, kini mulai memproduksi masker APD bagi rumah sakit. Mungkin hal ini tidak seberapa, namun bisa jadi pijakan awal dalam mengeksplor berbagai potensi produk inovatif di masa depan.
5.      Polusi global menururn drastis
Pada 8 Maret lalu, peneliti sumber daya lingkungan dari Standford University, Marshall Burke melakukan beberapa perhitungan baik tentang penurunan polusi udara baru-baru ini di beberapa wilayah. Khususnya penurunan nitrogen dioksida, gas yang sebagian besar dikeluarkan oleh mobil, truk dan beberapa industri. Adanya virus ini seakan memaksa manusia untuk STOP sejenak dalam kegiatan duniawi dan memaksa alam untuk me-refresh kondisinya.
Memang, tidak ada yang bisa disalahkan terkait tragedi ini. Toh nyatanya tidak ada satupun negara yang siap 100% dalam melawan penyebaran covid. Baik negara berkembang maupun negara maju, semuanya kena !. Penyakit ini tidak memandang ras, suku, agama, jabatan, dll.

Hal yang dapat kita lakukan adalah tetap berpikir positif dan senantiasa berdoa. Tak ada badai yang tak berlalu. Bagai judul puitis yang pernah dilontarkan dalam buku R.A Kartini : “Habis gelap terbitlah terang”. Wabah ini pasti akan sirna seiring berjalannya waktu. Dengan catatan masyarakat harus mendukung dan memberi saran apapun terkait kebijakan dalam penanganan wabah ini.

Ada baiknya kita mulai saling peduli sesama. Tidak perlu saling untuk menyalahkan. Sudah pasti mereka yang bekerja di pemerintahan maupun bidang kesehatan kini sedang berjuang mati-matian melawan Corona. Banyak rumah sakit yang mulai kualahan dalam menangani lonjakan pasien. Teruntuk oknum yang masih menimbun APD hanya untuk kepentingan pribadi, hal yang demikian harus segera dilaporkan dan diberantas. Jangan lagi anggap virus ini hanyalah masalah sepele. Virus ini ada, untuk menguji sisi kemanusiaan kita semua. Disinilah kita sekarang, sedang diuji bersama-sama.

Tetap sebarkan semangat perlawanan ini kepada media-media sosial. Jangan hanya sharing mengenai hal-hal negatif tentang corona !. Entah kenapa berita umum selalu berisi terror yang meresahkan orang-orang. Berita yang baik tentu akan menimbulkan pola pikir yang baik pula. Dan dengan pola pikir yang baik itulah, maka era perubahan akan dimulai. Kita buktikan bahwa dengan semangat penuh wawasan, kutukan yang telah penulis sebutkan diatas bisa dipatahkan.

#StayPositive
#StayAlive
#StayAtHome



Pustaka



https://www.ayosemarang.com/read/2020/04/01/54570/kapan-wabah-covid-19-berakhir-ini-prediksi-forum-dokter-global

https://www.wartaekonomi.co.id/read272176/secercah-titik-terang-cara-ini-ampuh-melawan-virus-corona

https://www.minews.id/news/kabar-baik-covid-19-di-italia-mulai-mereda

https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/17/190300123/dampak-pandemi-virus-corona-pada-lingkungan-polusi-udara-global-turun?page=3

Catatan : sumber diatas digunakan hanya sebagai bukti pencarian data yang valid.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunikasi Dalam Kelas Online

Bolehkah Guru Gaptek ?

Konsep, Karakteristik, Tujuan, Manfaat, dan Komponen E-Learning